Caption Foto : Perwakilan PT Sucofindo saat memberikan penjelasan terkait proses verifikasi teknis perdagangan mineral di Bangka Belitung , Selasa (18/11/25) di Kantor Sucofindo
Wartawan : Ari| Editor : Haryani
Wartapublik.com,Bangka Belitung- Menanggapi pertanyaan publik terkait dugaan aktivitas tambang KIP PT Arsed dalam proses perpanjangan RKAB yang ramai diperbincangkan di Jebus saat ini.
PT Sucofindo sebagai mitra Dangang dengan PT Arsed menegaskan bahwa, tugasnya hanya melakukan verifikasi teknis di sektor perdagangan mineral, bukan mengawasi aktivitas pertambangan.
Klarifikasi ini disampaikan menanggapi pertanyaan publik terkait dugaan aktivitas tambang KIP PT Arsed dalam proses perpanjangan RKAB .
Perwakilan Sucofindo pengawas perdagangan Holil menjelaskan bahwa verifikasi yang mereka lakukan sebatas pemeriksaan dokumen, legalitas, sampling, dan analisis laboratorium terhadap mineral yang akan diperdagangkan atau diekspor.
Mereka menegaskan tidak memiliki wewenang memastikan apakah suatu tambang beroperasi atau tidak. Dan apakah asal usul barang di dalam atau di luar.
“Ranah kami hanya verifikasi administrasi dan perdagangan. Pengawasan tambang ada di ESDM dan Inspektur Tambang,” ujar perwakilan Sucofindo, Selasa (18/11/25) .
Sucofindo juga menegaskan tidak dapat menelusuri asal-usul bahan baku tambang. Selama dokumen perusahaan lengkap dan dilegalkan, mereka wajib memproses verifikasi sesuai Permendag Nomor 9 Tahun 2022.
Terkait informasi masyarakat soal aktivitas tambang di Jebus, Sucofindo meminta agar hal itu dikonfirmasi ke instansi berwenang yang memiliki akses pemeriksaan lapangan.
Mereka menambahkan, jika ditemukan dokumen tidak sesuai, proses verifikasi dapat dihentikan. Namun bahan baku dengan legalitas lengkap tidak dapat mereka tolak karena itu sudah menjadi kewenangan pengawas tambang.
” Saat ini Kapal Isap Produksi ( KIP) PT Arsed Indonesia tidak beroperasi hampir 1 bulan, kerjasama dengan pihak kami berakhir pada bulan Desember ,” Tegas Holil.
Berita sebelumnya, proses perpanjangan RKAB PT Arsed Indonesia kembali menjadi sorotan di tengah isu transparansi industri timah Bangka Belitung. Perusahaan smelter yang beroperasi di Jelitik sejak 2021 itu diduga tercatat mengekspor lebih dari 15.000 ton timah. Namun hal ini memunculkan pertanyaan terkait sumber bahan bakunya.
Aktivitas tambang PT Arsed di perairan Jebus disebut tidak terlihat dalam beberapa bulan terakhir. Sejumlah sumber menyampaikan kapal isap produksi (KIP) yang dilaporkan aktif justru hanya disewa dan diparkir untuk memenuhi syarat administratif izin usaha.
Beberapa pelaku industri bahkan mengatakan adanya pasokan bahan baku yang diduga berasal dari pihak ketiga, meskipun klaim tersebut belum terkonfirmasi. Ketidakseimbangan antara laporan produksi dan kegiatan lapangan inilah yang menimbulkan tanda tanya besar.
Menurut informasi salah satu mantan Kepala Teknik Tambang ( KTT), Fenomena dugaan tambang fiktif ini bukan hal baru.
“Praktik dugaan manipulasi laporan produksi kerap terjadi, bekerja sama dengan oknum surveyor dan inspektur tambang, ” ujar sumber yang minta dirahasiakan namanya.
Kendati demikian, awak media masih berusaha menghubungi Direktur Utama PT Arsed Indonesia, Artur, namun belum mendapat tanggapan. Upaya konfirmasi kepada Inspektur Tambang dan Ditjen Minerba juga belum membuahkan hasil.
Hingga berita ini diturunkan, Tim media masih menunggu klarifikasi dari Ditjen Minerba dan Komisi VII DPR RI terkait proses perpanjangan RKAB PT Arsed Indonesia. ( Tim/ Beritabaik. co. id).














