Scroll untuk baca artikel
Advertorial

Susanti Saparudin Dukung Kebangkitan Bujang Dayang Pangkalpinang

573
×

Susanti Saparudin Dukung Kebangkitan Bujang Dayang Pangkalpinang

Sebarkan artikel ini

Caption foto: Susanti Saparudin, istri Wali Kota Pangkalpinang yang juga pemerhati budaya dan kepemudaan, menyampaikan apresiasi atas kembalinya ajang Bujang Dayang 

Wartawan: Rizki|Editor: Haryani

Wartapublik.com, Pangkalpinang — Setelah 17 tahun vakum, ajang bergengsi Bujang Dayang Pangkalpinang kembali digelar dengan semangat baru. Kegiatan ini tak sekadar kontes kecantikan dan ketampanan, melainkan wadah pembentukan karakter, wawasan, dan intelektualitas generasi muda Kota Pangkalpinang.

Inisiator sekaligus penggagas Bujang Dayang, Willy, menjelaskan bahwa ajang ini dirancang sebagai ikon pembinaan pemuda, bukan sekadar perlombaan penampilan fisik.

“Konsep awal Bujang Dayang berbeda. Seperti Abang None Jakarta atau Roro Yogyakarta, tujuannya mencetak generasi muda usia 16–25 tahun yang siap menjadi tenaga profesional dan calon pemimpin masa depan. Mereka berada di masa second golden age, masa emas kedua pembentukan karakter,” ujar Willy.

Para peserta akan mengikuti pelatihan intensif selama 11 hari dengan materi kepribadian, etika, wawasan, dan nilai moral.

“Kami ingin melahirkan generasi berintegritas, berkarakter, dan bebas dari perilaku negatif. Pemenang bukan hanya yang kompeten, tetapi simbol dari proses pembentukan karakter yang matang,” imbuhnya.

Willy menambahkan, penyelenggaraan tahun ini digelar tanpa dukungan APBD, namun tetap berjalan penuh semangat.

“Ini adalah marwah yang harus dikembalikan. Saya terharu, setelah 21 tahun perjalanan Bujang Dayang, akhirnya ajang ini bisa digelar kembali,” katanya.

Plt Kepala Dinas Pariwisata Kota Pangkalpinang, Yudi Fernando, menyebut pihaknya terus berupaya agar kegiatan ini tetap meriah meski dengan keterbatasan anggaran.

“Kami integrasikan Bujang Dayang dengan peringatan HUT Kota Pangkalpinang dan Maulid Nabi di Watun Melayu agar lebih megah dan menarik minat masyarakat. Puncak acaranya akan digelar pada Desember 2025,” jelasnya.

Sementara itu, Susanti Saparudin, istri Wali Kota Pangkalpinang yang juga pemerhati budaya dan kepemudaan, menyampaikan apresiasi atas kembalinya ajang ini. Ia berharap Bujang Dayang dapat menjadi media pembentukan karakter dan kebanggaan bagi pemuda Pangkalpinang.

“Kita perlu mengembalikan marwah Bujang Dayang sebagai simbol budaya dan kebanggaan daerah. Ini bukan hanya tentang penampilan, tapi tentang semangat dan jati diri pemuda Pangkalpinang,” ujar Susanti.

Dinas Pariwisata juga masih melakukan penjajakan dengan sejumlah sponsor serta menyusun peta jalan kegiatan hingga akhir tahun.

Peserta Bujang Dayang 2025 ditetapkan harus berusia 16–25 tahun, belum menikah, memiliki tinggi minimal 160 cm (wanita) dan 165 cm (pria), bebas narkoba, serta mampu berkomunikasi baik dalam Bahasa Indonesia dan minimal satu bahasa asing.

Ajang ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan generasi muda Pangkalpinang serta melahirkan duta daerah yang mampu mempromosikan pariwisata dan budaya lokal ke tingkat yang lebih luas.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *