Caption Foto: Kampung Adat Gebong Memarong di Air Abik, Kabupaten Bangka, yang didukung PT TIMAH sebagai bagian dari upaya pelestarian adat dan budaya masyarakat lokal.
Editor : Haryani
Wartapublik.com, PANGKALPINANG — PT TIMAH (Persero) Tbk terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pelestarian adat dan budaya masyarakat di wilayah operasional perusahaan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), (27/03/26).
Dukungan tersebut diwujudkan melalui bantuan terhadap berbagai kegiatan tradisi, festival budaya, hingga ritual keagamaan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat.
Di tengah arus globalisasi, adat dan budaya dinilai bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi juga menjadi identitas serta perekat sosial yang menjaga harmoni kehidupan bermasyarakat.
PT TIMAH secara konsisten hadir mendukung berbagai kegiatan budaya di sejumlah daerah. Di Kabupaten Bangka, perusahaan bersama Masyarakat Adat Mapur menghadirkan Kampung Adat Gebong Memarong di Air Abik, Desa Gunung Muda.
Kawasan adat tersebut hingga kini tetap eksis dan berkembang sebagai destinasi wisata edukasi budaya bagi masyarakat lintas generasi yang ingin mengenal lebih dekat kehidupan, tradisi, dan kearifan lokal masyarakat Adat Mapur.
Selain itu, PT TIMAH juga turut mendukung tradisi Nuju Jerami yang menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat setempat.
Di Kabupaten Bangka Barat, perusahaan juga secara rutin memberikan dukungan terhadap pelaksanaan tradisi Perang Ketupat di Desa Tempilang serta Ritual Rebo Pusaka Tahunan Setana Jering Amantubillah.
Sementara di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, PT TIMAH mendukung pelaksanaan Festival Lampu Colok yang digelar setiap bulan Ramadan bersama kelompok pemuda.
Ketua Himpunan Pemuda Pemudi Mukalimus Desa Sawang, Azyar, mengapresiasi kontribusi PT TIMAH dalam menjaga tradisi masyarakat melalui dukungan terhadap festival tersebut.
“Kami sangat berterima kasih karena bantuan ini turut menjaga kelestarian tradisi masyarakat. PT TIMAH juga kerap mendukung kegiatan ini setiap tahun,” ujarnya.
Menurut Azyar, Festival Lampu Colok merupakan tradisi turun-temurun yang dilaksanakan pada malam tujuh likur Ramadan. Selain sebagai syiar Islam, kegiatan ini juga menjadi wadah kreativitas generasi muda melalui perlombaan tingkat kabupaten.
Tak hanya itu, di berbagai wilayah operasional lainnya, PT TIMAH juga terus berperan aktif mendukung festival kebudayaan dan berbagai kegiatan adat masyarakat sebagai upaya memperkuat identitas lokal.
Dukungan ini diharapkan mampu menjaga kelestarian budaya sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat di tengah perkembangan zaman.







