Scroll untuk baca artikel
Pemerintahan

Wali Kota Pangkalpinang Soroti Sampah, Banjir dan Minim Ruang Hijau dalam FGD Lingkungan Hidup

474
×

Wali Kota Pangkalpinang Soroti Sampah, Banjir dan Minim Ruang Hijau dalam FGD Lingkungan Hidup

Sebarkan artikel ini

Caption foto : Wali Kota Pangkalpinang, Prof. Saparudin, menjadi Narasumber FGD di Bepperida pemkot Pangkalpinang

Editor : Haryani

Wartapublik.com, PANGKALPINANG — Wali Kota Pangkalpinang, Prof. Saparudin menjadi narasumber  Focus Group Discussion (FGD) terkait pengelolaan lingkungan hidup dan penyusunan basis data lingkungan sebagai bahan pengambilan keputusan pembangunan daerah, Kamis (16/04/2026), di ruang Bapperida Kota Pangkalpinang.

Turut hadir dalam kegiatan ini , asisten perekonomian dan pembangunan kota Pangkalpinang Juhaini, Dinas DLH serta Jajaran  OPD dan peserta lainnya.

Dalam kegiatan tersebut, wali kota menyoroti sejumlah persoalan lingkungan yang masih menjadi tantangan di Kota Pangkalpinang, mulai dari sampah, banjir, hingga minimnya ruang terbuka hijau dan pepohonan di kawasan perkotaan.

Menurut Saparudin, isu lingkungan hidup saat ini bukan hanya persoalan daerah, tetapi telah menjadi isu global yang membutuhkan perhatian serius.

“Lingkungan hidup ini bukan isu lokal, tetapi isu global. Di negara mana pun persoalan lingkungan akan selalu menjadi perhatian,” ujarnya.

Ia menjelaskan, salah satu persoalan utama yang dihadapi Kota Pangkalpinang adalah volume sampah yang mencapai sekitar 100 hingga 120 ton per hari, seiring tingginya aktivitas masyarakat di kawasan perkotaan.

“Semakin tinggi aktivitas masyarakat, maka sampah yang dihasilkan juga semakin banyak. Ini menjadi isu besar di perkotaan,” katanya.

Selain sampah, persoalan banjir juga menjadi perhatian pemerintah kota. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh topografi wilayah yang memiliki sejumlah cekungan serta saluran drainase yang tersumbat di beberapa titik.

Saparudin juga menyoroti perubahan fungsi lahan yang menyebabkan berkurangnya area resapan air.

“Banyak saluran air dan selokan yang justru tertutup bangunan, sehingga menghambat aliran air dan memicu banjir,” ujarnya.

Ia menambahkan, minimnya pepohonan di wilayah kota turut berdampak pada meningkatnya suhu udara dan kualitas lingkungan.

“Pepohonan sangat kurang. Ini juga menjadi persoalan lingkungan karena berpengaruh terhadap kualitas udara dan suhu panas di kota,” katanya.

Untuk mengatasi berbagai persoalan tersebut, wali kota menekankan pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat melalui semangat gotong royong dan kolaborasi lintas sektor.

“Pemerintah tidak boleh eksklusif. Semua pihak harus dilibatkan, baik stakeholder maupun masyarakat secara langsung. Semangat gotong royong menjadi kekuatan kita dalam menyelesaikan persoalan kota,” tegasnya.

Selanjutnya peserta Kegiatan FGD, akan  penyusunan basis data lingkungan hidup yang akan menjadi acuan dalam perencanaan pembangunan daerah, termasuk penyusunan dokumen RPPH, RPJMD, KLHS, serta dokumen lingkungan hidup lainnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *