Scroll untuk baca artikel
Pemerintahan

Pemkot Pangkalpinang Perkuat Penanganan Sampah dan Banjir

574
×

Pemkot Pangkalpinang Perkuat Penanganan Sampah dan Banjir

Sebarkan artikel ini

Caption Foto: Wali Kota Pangkalpinang Prof. Saparudin didampingi Wakil Wali Kota Dessy Ayutrisna memimpin rapat penanganan sampah dan banjir bersama OPD di Smart Room Center, Jumat (17/4/2026).

Editor : Haryani

Wartapublik.com, PANGKALPINANG — Pemerintah Kota Pangkalpinang terus memperkuat penanganan sampah dan banjir yang masih menjadi persoalan utama di daerah tersebut.

Hal ini disampaikan Wali Kota Pangkalpinang, Prof. Saparudin saat menghadiri rapat komunikasi, informasi, dan edukasi pengolahan sampah bersama Wakil Wali Kota Dessy Ayutrisna, di Smart Room Center (SRC) Kantor Wali Kota, Jumat (17/4/2026).

Rapat tersebut turut dihadiri sejumlah kepala OPD, di antaranya Dinas Lingkungan Hidup, PUPR, Perkim, Dinas Pendidikan, serta instansi terkait lainnya.

Wali Kota menjelaskan, persoalan banjir di Pangkalpinang dipicu oleh tiga sumber aliran air, yakni dari Sungai Pedindang di wilayah Bangka Tengah, Sungai Kacek di tengah kota, serta aliran dari kawasan perbukitan. Kondisi ini diperparah oleh sedimentasi pasir dan tumpukan sampah di saluran air.

“Banjir ini bukan hanya karena air, tetapi juga karena sampah dan pasir yang menyumbat saluran,” ujarnya.

Sebagai langkah penanganan, Pemkot menggalakkan gotong royong pembersihan lingkungan yang melibatkan RT, RW, kelurahan hingga OPD. Selain itu, rekayasa teknis melalui penutupan pintu air di sejumlah titik dinilai mampu mengurangi dampak banjir rob.

“Setelah rekayasa dilakukan, banjir rob tidak lagi sampai masuk ke rumah warga seperti sebelumnya,” katanya.

Meski demikian, ia mengakui masih terdapat kendala, terutama saluran air yang tertutup bangunan warga sehingga menyulitkan normalisasi.

Di sisi lain, persoalan sampah juga menjadi perhatian serius. Saat ini, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pangkalpinang telah mengalami kelebihan kapasitas.

Untuk itu, Pemkot mendorong optimalisasi Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R). Jika berjalan maksimal, sekitar 70 persen sampah dapat diolah di TPS 3R dan hanya 30 persen yang dibuang ke TPA.

“Kalau TPS 3R optimal, beban TPA akan jauh berkurang,” jelasnya.

Pemkot saat ini tengah mengupayakan penambahan TPS 3R. Dari lima usulan ke pemerintah pusat, tiga telah diverifikasi dan satu masih dalam proses. Namun, keterbatasan lahan menjadi tantangan utama.

Selain itu, kendala teknis seperti pengolahan sampah plastik dan keterbatasan fasilitas juga masih dihadapi.

Untuk mendukung layanan, Pemkot berencana menambah armada pengangkut sampah, termasuk kendaraan kecil untuk menjangkau permukiman sempit.

“Ke depan akan kita siapkan armada yang sesuai agar pengangkutan lebih maksimal,” ujarnya.

Pemkot juga tengah mengembangkan aplikasi pengelolaan sampah guna meningkatkan pendapatan daerah yang saat ini diperkirakan mencapai Rp4 miliar per tahun.

Wali Kota menegaskan, penanganan sampah membutuhkan peran bersama, tidak hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat.

“Kesadaran masyarakat membuang sampah pada tempatnya sangat menentukan keberhasilan penanganan ini,” tegasnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *